Cerpen

Pada suatu sore di Desa Karangrejo hujan turun dengan sangat deras, gemuruh hujan memberikan kesan tenang di sore hari, namun tidak seperti orang-orang lain seorang anak termenung di teras rumahnya memandangi derasnya hujan. Dia adalah Budi, Budi dikenal sebagai anak yang paling periang di Desa Karangrejo namun kini entah mengapa Budi nampak sangat murung, dia hanya meratapi hujan dan juga pemandangan Desa Karangrejo yang masih asri dan penuh dengan sawah yang luas nan subur.

Budi termenung dia memikirkan kejadian tadi pagi, kejadian yang membuat dia murung sepanjang hari, tadi pagi Budi tidak sengaja merusak layangan Anton sahabatnya saat mereka sedang bermain layangan Bersama di lapangan Desa Karangrejo yang luas,”huh! Mengapa hanya karena sebuah layangan bisa bikin Anton marah padaku sih?”. Piker Budi, kata 'layangan' membuat Budi teringat bahwa Anton mengatakan layangan miliknyan dia buat sendiri mungkin karena itulah Anton marah pada Budi pikir Budi.

Setelah menyadari hal ini Budi merasa bersalah pada Anton dan segera berlari menuju warung, di Tengah hujan rintik rintik di sabtu sore yang teduh, Budi menerobos hujan yang kini menjadi gerimis, dia berlari menuju warung untuk membeli layangan untuknya dan Anton berharap Anton akan memaafkannya setibanya di warung Budi bertemu dengan mpok Imah penjaga warung.”

Pengen beli apa Bud?”. Tanya mpok Imah, “mpok aku meh tuku layangan loro”. Balas Budi, mpok Imah pun memberikan 2 layangan tersebut kepada Budi, “totalnya 5 ribu Bud”. Kata mpok Imah, Budi pun memberikan uang 5 ribu kepada mpok Imah sebelum berlari, “suwun mpok”. Ujar Budi sambil berlari menuju rumah sahabatnya, Anton.

Sesampainya di rumah Anton Budi melihat Anton duduk di teras termenung sendirian sembari menatapi pemandangan pohon yang teduh, “Anton! Main layangan yuk!”. Ujar Budi berlari ke halaman rumah sahabatnya, Anton yang terkejut belum sempat membalas perkataan Budi namun Budi sudah mengatakan hal lain, “aku minta maaf karena sudah merusak layanganmu, ini aku berikan yang baru jangan marah ya”. Ujar Budi, “Ya, aku maafkan, main layangan di lapangan yuk!”. Ujar Anton, Budi pun mengganguk dan berlari Bersama Anton menuju lapangan, Namanya juga anak-anak, gampang bertengkar namun gampang juga balikannya.

Waktu menunjukkan pukul lima sore, Budi dan Anton bermain di lapangan yangkiti sedikit becek akibat hujan barusan, meskipun begitu Anton dan Budi tetap bergembira bermain Bersama di lapangan yang luas nan asri Bersama, sebagai sahabat.

Penulis: M.A.W